Sustainable Tourism: Jurusan Pariwisata yang Fokus pada Lingkungan dan Masa Depan

Indonesia, sebagai negara kepulauan dengan kekayaan biodiversitas terbesar kedua di dunia, berada di persimpangan jalan dalam industri pariwisatanya. Selama dekade terakhir, kita menyaksikan bagaimana "Mass Tourism" atau pariwisata massal memberikan dampak ganda: pertumbuhan ekonomi yang pesat di satu sisi, namun kerusakan ekosistem dan pengikisan budaya lokal di sisi lain.

sustainable tourism
Desa Penglipuran, Salah satu contoh destinasi pariwisata berkelanjutan di Indonesia

Memasuki tahun 2026, paradigma tersebut telah bergeser. Dunia tidak lagi sekadar mencari tempat untuk berfoto; dunia mencari destinasi yang bertanggung jawab. Di sinilah peran penting Sustainable Tourism (Pariwisata Berkelanjutan) muncul sebagai disiplin ilmu yang krusial di perguruan tinggi. Artikel ini akan mengupas tuntas mengapa jurusan ini bukan hanya sekadar tren, melainkan masa depan industri hospitalitas global.

1. Pendahuluan: Mengapa Harus Sustainable Tourism?

Dalam beberapa tahun terakhir, istilah overtourism menjadi momok bagi destinasi populer seperti Bali, Labuan Bajo, hingga Borobudur. Dampaknya mulai dari krisis air bersih, penumpukan sampah plastik, hingga komodifikasi budaya yang berlebihan. Kesadaran akan dampak negatif ini melahirkan kebutuhan akan tenaga ahli yang mampu menyeimbangkan tiga pilar utama: Ekonomi, Lingkungan, dan Sosial (Triple Bottom Line).

Kuliah di jurusan Pariwisata Berkelanjutan bukan berarti Anda belajar menjadi "penjaga hutan" semata. Anda belajar menjadi manajer strategis yang memastikan bahwa keindahan alam Indonesia hari ini masih bisa dinikmati oleh generasi mendatang, sembari tetap menghasilkan keuntungan finansial yang adil bagi masyarakat lokal.

2. Apa yang Dipelajari di Jurusan Sustainable Tourism?

Kurikulum dalam jurusan ini dirancang untuk menggabungkan keterampilan manajemen bisnis dengan etika lingkungan. Berikut adalah beberapa fokus utama studinya:

A. Manajemen Destinasi Berbasis Daya Tampung (Carrying Capacity)

Mahasiswa diajarkan untuk menghitung ambang batas maksimal sebuah lokasi. Jika sebuah pantai hanya mampu menampung 500 orang per hari tanpa merusak ekosistem terumbu karangnya, bagaimana strategi manajemennya agar tetap menguntungkan secara bisnis? Teknik zonasi dan pengaturan alur wisatawan menjadi makanan sehari-hari di sini.

B. Sosiologi Pariwisata dan Pemberdayaan Masyarakat

Pariwisata yang berkelanjutan tidak boleh meminggirkan warga lokal. Anda akan mempelajari bagaimana mengintegrasikan penduduk desa ke dalam rantai pasok pariwisata—mulai dari penyediaan bahan pangan organik untuk hotel hingga pemandu wisata yang menceritakan kearifan lokal tanpa mengubahnya menjadi "pertunjukan buatan".

C. Ekonomi Hijau (Green Economy)

Di sini, mahasiswa mempelajari model bisnis yang meminimalkan risiko lingkungan dan kelangkaan ekologis. Fokusnya adalah pada penggunaan energi terbarukan di hotel, pengurangan jejak karbon dari transportasi wisata, hingga sistem pengolahan limbah mandiri di destinasi terpencil.

D. Kebijakan dan Regulasi Pariwisata

Memahami hukum adalah kunci. Mahasiswa belajar tentang regulasi nasional (seperti UU Kepariwisataan) dan standar internasional (seperti GSTC - Global Sustainable Tourism Council). Anda akan belajar bagaimana merancang kebijakan yang mendorong investasi hijau masuk ke Indonesia.

3. Urgensi dan Relevansi di Tahun 2026

Mengapa jurusan ini sangat relevan saat ini? Ada tiga faktor pendorong utama:

  1. Pergeseran Perilaku Wisatawan (Gen Z & Alpha): Wisatawan masa kini lebih memilih resor yang tidak menggunakan plastik sekali pakai dan mendukung konservasi satwa. Mereka bersedia membayar lebih mahal untuk pengalaman yang memiliki nilai moral.

  2. Target Net Zero Emission Indonesia: Pemerintah Indonesia telah memperketat standar industri terkait emisi karbon. Industri pariwisata, sebagai penyumbang devisa terbesar, dipaksa melakukan transformasi besar-besaran ke arah green hospitality.

  3. Ketahanan Terhadap Krisis: Destinasi yang dikelola secara berkelanjutan terbukti lebih tangguh (resilience) dalam menghadapi krisis seperti pandemi atau bencana alam karena memiliki keterikatan kuat dengan komunitas lokal dan ekosistem yang terjaga.

4. Peluang Karier: Lebih dari Sekadar Staf Hotel

Lulusan Sustainable Tourism memiliki spektrum karier yang sangat luas dan prestisius:

  • Sustainability Officer di Resort Mewah: Bertanggung jawab memastikan operasional hotel (energi, air, sampah) memenuhi standar sertifikasi hijau internasional.

  • Konsultan Ekowisata & Desa Wisata: Menjadi arsitek strategi bagi desa-desa di Indonesia untuk bertransformasi menjadi destinasi wisata berkelas dunia tanpa merusak tatanan desa.

  • Analis Kebijakan di Kemenparekraf: Merancang regulasi pariwisata nasional yang berbasis keberlanjutan.

  • Manajer CSR (Corporate Social Responsibility): Bekerja di perusahaan besar untuk menyelaraskan program bantuan sosial dengan pengembangan pariwisata daerah.

  • Penyusun Rencana Induk Pariwisata (Masterplan): Bekerja sama dengan tim tata kota untuk membangun destinasi baru dari nol dengan prinsip keberlanjutan.

5. Contoh Nyata: Pariwisata Berkelanjutan di Indonesia

Indonesia memiliki banyak laboratorium hidup untuk studi ini. Misalnya, pengelolaan Taman Nasional Tanjung Puting yang menyeimbangkan konservasi orangutan dengan wisata minat khusus, atau pengembangan Desa Wisata Penglipuran di Bali yang dinobatkan sebagai salah satu desa terbersih di dunia karena komitmen kuat masyarakatnya terhadap adat dan lingkungan.

Bagi mahasiswa yang berada di daerah dengan potensi alam besar, seperti Kalimantan Barat, peluang untuk mengembangkan Ekowisata Mangrove atau pariwisata berbasis Perhutanan Sosial sangatlah terbuka lebar. Ini adalah kesempatan untuk memajukan daerah sendiri dengan ilmu yang modern.

6. Kesimpulan: Menjadi Bagian dari Solusi

Memilih untuk kuliah di jurusan Pariwisata Berkelanjutan adalah pilihan yang cerdas sekaligus mulia. Anda tidak hanya mengejar karier di industri yang terus tumbuh, tetapi juga mengambil peran sebagai pelindung kekayaan Nusantara. Di masa depan, pariwisata tidak akan lagi diukur dari seberapa banyak orang yang datang, melainkan dari seberapa besar manfaat yang dirasakan oleh alam dan manusia di dalamnya.